Stage of the Ground

(Tidak) Seperti di Televisi

22 Mei 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

“Hiroyuki’s figuring it out as he goes along, not really giving a shit, but he hit the nail on the head,” says Joi Ito, a Tokyo-based venture capitalist and CEO of Creative Commons. “Japan is an unhappy culture. The people are lonely and depressed, and the Internet is a release valve.”
(Meet Hiroyuki Nishimura, the Bad Boy of the Japanese Internet, Wired Magazine)

Aku, entah kenapa, pernah bermimpi hidup sendirian di sebuah apartemen kecil, di satu kota yang juga kecil, di Jepang. Dalam impian itu, semuanya tampak indah dan sederhana: sore hari aku akan pergi ke bukit melihat matahari tenggelam, lalu berjalan pulang di antara semilir angin senja hari. Saat bunga sakura mulai mekar, aku akan membawa kameraku dan mencatat momen-momen yang terlewatkan oleh manusia-manusia lain yang disibukkan oleh harap dan tanggung jawabnya sendiri-sendiri.

Atau, dengan kata lain, aku bermimpi tentang hal-hal biasa yang kau temui dalam kisah-kisah drama TV Jepang pada umumnya.

Tetapi ucapan Joi Ito di atas menyadarkanku akan sesuatu. Bahwasanya orang-orang kreatif di Jepang itu menggunakan media mereka masing-masing untuk tujuan yang persis sama dengan aku dan kita semua di sini: semua karya itu pada dasarnya adalah pelarian, kerinduan akan utopia, adalah mekanisme pertahanan diri mereka terhadap realita hidup sehari-hari.

Mereka membuat drama-drama itu indah dan sederhana karena hidup mereka pada kenyataannya adalah hidup yang menyedihkan, penuh depresi dan kesendirian. Dan, dengan kata lain, jika sungguh aku datang dan hidup di sana, kenyataan yang akan menderaku pastilah sama juga menyedihkan, penuh depresi dan kesendirian.

(Tidak) seperti di televisi.

→ Leave a CommentKategori: Refleksi
Tagged: , , ,

Masih Tentang Labirin-Labirin Sampah

16 Mei 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Seth Godin menulis lebih kurang tentang hal yang sama. Dalam sudut pandang dan pertimbangan-pertimbangan yang berbeda, tentu saja.

So, why not compromise and shrink wrap [your product] to a cardboard backad? A simple piece of cardboard, 8 x 10, impossible to fit under your jacket, much lighter, easy to recycle, cheaper and easier to ship.

→ Leave a CommentKategori: Refleksi
Tagged: , , ,

Di Dalam Sampah pun Ada Pelajaran Tersendiri

15 Mei 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Aku baru menyadari ini sekarang:

Terlepas dari betapa buruknya kualitas sinetron-sinetron substandar di Indosiar itu, sesungguhnya dia justru punya kekuatan sendiri. Betapa tidak?

Sekedar melihat potongan animasi CG-nya, orang bisa tahu dia acara apa, ditayangkan di mana.

Sekedar mendengar musik latarnya, orang bisa tahu dia acara apa, ditayangkan di mana.

Sekedar ada satu kalimat suara dubbernya, orang bisa tahu dia acara apa, ditayangkan di mana.

Sekedar mengamati gaya pengambilan sudut pandang kameranya, orang bisa tahu dia acara apa, ditayangkan di mana.

Malah, sekedar melihat kostum dan tata rias artis-artisnya, orang bisa tahu dia acara apa, ditayangkan di mana.

Sinetron mana lagi yang bisa seperti ini? Di stasiun lain, semua sama.

Seburuk-buruknya sinetron Indosiar itu, dia punya identitas tersendiri. Ciri khas sendiri. Yang dapat membuatnya dikenali orang meski hanya dirasakan dalam sepersekian detik.

Dalam banyak hal, justru identitas ini yang seringkali kita terlupa.

→ Leave a CommentKategori: Refleksi
Tagged: , , ,

Hei, Televisi…

9 Mei 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

…berhentilah bermain-main dengan guyonan macam apapun yang menyebutkan “pemerkosaan”.

Aku sering dengar kau bercanda begini. Eko Patrio. Ruben Onsu. Dan yang lain-lainnya. Aku dengar candaan ini di acara keluarga di Indosiar, jam 6 malam. Demi Tuhan! Adikku masih kelas empat SD saat dia mendengarmu!

Apapun konteksmu, pemerkosaan bukan sesuatu yang lucu.

Tidak akan pernah.

→ Leave a CommentKategori: Refleksi
Tagged: , ,

Di Antara Dinding-dinding Labirin Sampah

7 Mei 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kau pernah ada di sana, temanku, dan aku pun begitu. Kita sama-sama menyaksikannya, di dalam supermarket itu, di antara labirin modern berdindingkan rak-rak bersusun tinggi itu. Mungkin engkau belum menyadarinya, namun lihatlah sedikit lebih lekat lagi.

Sabun mandi itu, sikat gigi itu, makanan kecil itu, minuman ringan itu, obat-obatan dan kosmetika itu. Kau tahu apa yang serupa dari kesemuanya itu?

Baca terus →

→ Leave a CommentKategori: Refleksi
Tagged: , , ,