Stage of the Ground

Di Antara Dinding-dinding Labirin Sampah

7 Mei 2008 · Tidak ada Komentar

Kau pernah ada di sana, temanku, dan aku pun begitu. Kita sama-sama menyaksikannya, di dalam supermarket itu, di antara labirin modern berdindingkan rak-rak bersusun tinggi itu. Mungkin engkau belum menyadarinya, namun lihatlah sedikit lebih lekat lagi.

Sabun mandi itu, sikat gigi itu, makanan kecil itu, minuman ringan itu, obat-obatan dan kosmetika itu. Kau tahu apa yang serupa dari kesemuanya itu?

Sampah. Masing-masing dari mereka telah terbungkus rapi oleh sampah-sampah. Dibentuk, diwarna dan ditulisi sedemikian rupa untuk menarik pandangan mata kita, untuk meyakinkan batin kita tentang higienitas benda yang ada di dalamnya, untuk menjadikannya unik dan bernilai jual di atas rata-rata.

Namun tetap sampah.

Coba bantah aku kalau engkau cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa kemasan-kemasan itu akan berusia lama setelah seseorang membelinya.

Semua itu sampah, teman. Berjalan dalam supermarket itu, sesungguhnya, sama dengan kita menelusuri kuburan masal kesia-siaan: sadarilah bahwa tak seberapa lama lagi semua di sekitarmu itu akan berakhir pada gunung-gunung sampah yang seharusnya tak perlu ada andai kita dengan segala omong kosong selera modern kita mau dengan jernih memahami dan membedakan antara sekedar kemasan dengan esensi kebutuhan-kebutuhan.

Maka terkutuklah kita semua. Dan jika engkau tersinggung karena aku menyumpahimu, ketahuilah bahwa sebenar-benarnya bumi tempat kita berpijak inilah yang meneriakkan serapah itu kepadamu dan juga padaku—aku hanya menyampaikan yang barangkali belum sempat kau dengarkan.

Maka berjanjilah padaku bahwa kelak, ketika kita bersama-sama berjuang menawarkan produk-produk kita, kita sebisa-bisanya dan sedalam-dalamnya akan juga berjuang menekan sejauh apa lagi akan kita kotori bumi yang hanya satu ini.

Maka berjanjilah kau mau belajar membedakan antara esensi dan kesia-siaan; kita belajar bersama, karena aku tahu pasti kebodohanku jauh melebihi kalian semua.

Tak ada lagi makhluk di muka bumi ini yang lebih merusak dan mengotori segalanya selain kita.

Sampai kapan?

Kategori: Refleksi
yang berkaitan: , , ,

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Tinggalkan Komentar