“Hiroyuki’s figuring it out as he goes along, not really giving a shit, but he hit the nail on the head,” says Joi Ito, a Tokyo-based venture capitalist and CEO of Creative Commons. “Japan is an unhappy culture. The people are lonely and depressed, and the Internet is a release valve.”
(Meet Hiroyuki Nishimura, the Bad Boy of the Japanese Internet, Wired Magazine)
Aku, entah kenapa, pernah bermimpi hidup sendirian di sebuah apartemen kecil, di satu kota yang juga kecil, di Jepang. Dalam impian itu, semuanya tampak indah dan sederhana: sore hari aku akan pergi ke bukit melihat matahari tenggelam, lalu berjalan pulang di antara semilir angin senja hari. Saat bunga sakura mulai mekar, aku akan membawa kameraku dan mencatat momen-momen yang terlewatkan oleh manusia-manusia lain yang disibukkan oleh harap dan tanggung jawabnya sendiri-sendiri.
Atau, dengan kata lain, aku bermimpi tentang hal-hal biasa yang kau temui dalam kisah-kisah drama TV Jepang pada umumnya.
Tetapi ucapan Joi Ito di atas menyadarkanku akan sesuatu. Bahwasanya orang-orang kreatif di Jepang itu menggunakan media mereka masing-masing untuk tujuan yang persis sama dengan aku dan kita semua di sini: semua karya itu pada dasarnya adalah pelarian, kerinduan akan utopia, adalah mekanisme pertahanan diri mereka terhadap realita hidup sehari-hari.
Mereka membuat drama-drama itu indah dan sederhana karena hidup mereka pada kenyataannya adalah hidup yang menyedihkan, penuh depresi dan kesendirian. Dan, dengan kata lain, jika sungguh aku datang dan hidup di sana, kenyataan yang akan menderaku pastilah sama juga menyedihkan, penuh depresi dan kesendirian.
(Tidak) seperti di televisi.
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.
Tinggalkan Komentar